N ARRIYANTO
al-albani, cara shalat, madzhab, muhammadiyah, NU, sunnah nabi, takbir
by M Shodiq Mustika
Alkisah, seorang pemuda Madura datang ke Yogyakarta. Ia menempuh studi lanjut, berkuliah di kota pelajar ini. Dijumpainya, cara shalat teman-temannya berlainan. Kenyataan ini agak mengejutkan baginya. Di kampung asalnya, semua orang bersholat dengan cara yang “sama”, patuh mengikuti petunjuk sang kyai.
Tapi di Jogja, cara salat kyai (ulama) tidak sepenuhnya diikuti oleh umatnya. Selain itu, kyai-nya pun macam-macam. Bukan hanya dari NU, melainkan juga Muhammadiyah, Tarbiyah (PKS), HTI, Syiah, Ahmadiyah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Jadilah sang pemuda Madura menjumpai aneka macam cara shalat di Jogja. Ia pun bertanya-tanya: Shalat kita beda???
Ia mempertanyakan cara shalat yang diajarkan oleh empat madzhab utama (Hanafi, Hanbali, Maliki, Syafi’i), juga Muhammadiyah dan NU serta lainnya. Ia bertanya-tanya: Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang hidup sebelum munculnya berbagai mazhab atau aliran itu? Salahkah?
Lantas, sang pemuda menyarankan kita untuk menjadikan buku Muhammad Nashiruddin al-Albani, Sifat Shalat Nabi, sebagai satu-satunya rujukan. Dengan demikianlah menurut dia, shalat kita akan menjadi benar dan tidak beda lagi. Begitulah katanya.
Tanggapan M Shodiq Mustika:
Aku juga merekomendasikan buku al-Albani tersebut. Kualitasnya luar biasa. Namun aku juga merekomendasikan buku-buku lain yang juga berkualitas.
Aku memahami kerinduan sang pemuda yang menginginkan cara shalat kita sama persis (disamping benar). Hanya saja, apakah Allah dan Rasul-Nya mengharapkan kita bershalat dengan cara yang sama persis?
Nabi saw. bersabda, “Bershalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku bersahalat!”
Perhatikanlah bahwa yang disabdakan bukanlah bershalatlah “sebagaimana Nabi bershalat”, melainkan “sebagaimana kalian melihat” Nabi bershalat. Nah, apabila cara lihat (atau sudut pandang) kita berbeda dalam melihat cara Nabi bershalat, bukankah ini akan menghasilkan cara shalat yang berlainan pula diantara kita?
Kalau pun cara lihat kita sama persis, cara shalat kita pun belum tentu sama persis. Untuk contoh penjelas, marilah kita gunakan sudut pandang al-Albani terhadap cara shalatnya Nabi saw. Satu contoh saja dulu, ya!
klik di sini untuk melihat gambar lebih besarSatu contoh: Bagaimanakah Nabi mengangkat tangan dalam kaitannya dengan takbir? Menurut sudut pandang al-Albani di buku tersebut, “Terkadang Nabi mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan ucapan takbir, terkadang sesudah ucapan takbir, dan terkadang pula sebelum ucapan takbir.”
Nah, satu contoh saja sudah menunjukkan adanya tiga cara yang berlainan dalam shalat kita, bahkan walaupun sudut pandangnya sama, apalagi bila berbeda. Itu baru satu unsur shalat. Belum lagi unsur-unsur lainnya. (Pada unsur-unsur lainnya, al-Albani juga mengemukakan berbagai perbedaan cara shalat Nabi.)
Oleh karena itu, seharusnya kita tidak perlu memaksakan diri atau pun orang lain untuk bershalat dengan cara yang sama persis alias seragam. Marilah kita terima kenyataan bahwa perbedaan cara shalat kita itu sah, sama-sama islami, asalkan sama-sama sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Oke?
Alhamdulillaah… Tadi saat berkunjung ke situs resmi Nahdlatul Ulama (NU), aku jumpai sebuah fakta yang sangat menarik: Ternyata, sebuah buku karya seorang dosen Universitas Muhammadiyah mengenai cara shalat diterima keberadaannya di situs resmi NU ini. Bahkan, boleh dibilang bahwa keberadaannya disambut hangat. Sebab, apresiasi terhadap buku tersebut muncul di rubrik resensi buku. Gambar kover bukunya pun tertayang di sidebar setiap halaman. Bagiku, apresiasi dan toleransi seperti itu luar biasa dan patut diteladani oleh kelompok-kelompok Islam lainnya.
Saat kutempuh latihan ujian praktek shalat sewaktu SMP, mulanya aku menggunakan cara shalat ala Muhammadiyah. Namun oleh guruku, yang kebetulan beraliran NU, cara shalatku dinilai salah. Aku diminta mengulangi shalatku. Berhubung aku ingin lulus, ya kupenuhi saja permintaannya, tapi khusus untuk latihan dan ujian itu saja. Dalam praktek sehari-hari, aku tetap menggunakan cara Muhammadiyah.
Saat ini, kecenderungan untuk menyeragamkan cara shalat mungkin masih berlangsung di sekolah-sekolah oleh guru-guru yang bersangkutan. Aku merasakannya ketika putri sulungku, kelas 3 SD, mengkritik salah satu cara shalatku.
Syifa, putriku itu, sekolahnya di SD Islam Al-Azhar 28 Solo Baru. Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. Walaupun salah seorang pendirinya ialah Buya Hamka, seorang tokoh Muhammadiyah, ada beberapa perbedaan kecil antara cara shalat Al-Azhar dan Muhammadiyah.
Selama ini, aku kenal Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan Islam yang moderat. Jadilah aku agak heran ketika mendapat kritik dari putriku itu. Apakah di sekolahnya diajarkan penyeragaman cara shalat? Apakah guru-gurunya tidak mengajarkan bahwa cara shalat yang benar itu ada banyak?
Kritikan putriku itu mengingatkanku pada seorang pemuda Madura di Jogja yang bertanya-tanya, “Shalat kita beda???”. Persoalan yang dia angkat ini sudah aku bahas di artikel “Mengapa cara shalat kita beda?” Di antara hikmahnya, aku tegaskan bahwa untuk ibadah mahdhoh (seperti shalat), segalanya terlarang, kecuali ada tuntunannya. Karena itu, penyeragaman cara shalat pun hukumnya haram karena tidak dituntunkan oleh Rasulullah saw.
Jadi, seharusnya para guru agama Islam itu tidak mengharuskan satu cara saja untuk bershalat, apa pun alirannya. Mestinya mereka mengajarkan bahwa cara shalat yang benar itu ada banyak. (Bahkan, meskipun makmum harus mengikuti gerak imam dalam shalat jamaah, cara shalat diantara makmum dan imam pun tidak harus sama persis.)
Sebagaimana yang diambil dari hadits Rasul saw yang diriwayatkan oleh Aby Hurairoh ra sengguhnya Rasullulah saw
berkata : “ Apabila engkau berdiri untuk melakukan shalat maka berwudhulah dengan sempurna, kemudian menghadap
kiblat, kemudian engkau bertakbir kemudian bacalah yang termudah bagimu dari AlQur’an, kemudian engkau berrukuk
hingga tuma’ninah dalam berukuk kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau meluruskan badanmu berdiri (I’tidal),
kemudin bersujut hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujut, kemudin angkat kepalamu (duduk antara 2 sujud) hingga
engkau bertuma’ninah dalam dudukmu kemudian engkau sujud kedua kalinya hingga bertuma’ninah dalam sujut,
kemudian lakukanlah seperti yang tadi diseluruh shalatmu” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
dalam Riwayat Muslim Rasullulah saw berkata : “Hingga engkau bertuma’ninah dalam berdirimu”
Hadits 2
Riwayat An Ibn Umar ra Rasulullah saw berkata : “ketika duduk untuk berTasyahud menaruh tangan kiri diatas lutut
sebelah kiri dan tangan kanannya diatas lutut sebelah kanan, dan memajukan jari telunjuk, dalam Riwayat Muslim
(mengumpulkan semua jarinya dan menunjuk dengan jari yang setelah jari jempol).
Hadits 3
Riwayat An Aby Mashud ra shabat Basyir bin Syaid “Kita diperintah untuk bershalat.. maka bagaimana kami bershalawat
keatasmu, kemudian Rasul saw terdiam lalu Rasulullah saw menjawab “ katakanlah, Allahumma Shali’alla Muhammadin
wa’alla ali Muhammad kama shalaita ala Ibrahimma…” sampai dengan akhir shalawat Ibrahimiyah. (HR. Muslim).
(Ditambahkan oleh Ibn khuzaimah bagaimana kami bershalawat atasmu jika kami dalam shalat).
Hadits 4
Sabda Rasulullah saw “sesungguhnya Rasulullah saw menutup shalatnya dengan salam” (HR.Imam Bukhari dan Muslim)
dan dari Wail bin Hujr ra “aku shalat bersama Rasul saw dan beliau salam awal sebelah kanan (Assalamu’alaikum
warohmatullahhi wabarokatu) dan salam akhir sebelah kiri (Assalamu’alaikum warohmatullahhi wabarokatu)”.( HR. Abu
Forum Majelis Rasulullah - majelisrasulullah.org Simpleboard Forum Component version: 1.1.0 Stable - MU Generated: 25 March, 2009, 02:41
daut dengan sanad sahih )
Rukun shalat ada 17
1. Niat,
sebagaimana hadits 1 diatas “Apabila engkau berdiri untuk melakukan shalat,,,” dan Hadits Rasul saw “sesungguhnya
amal itu dengan niat”
2. Menghadap kiblat dan berdiri dalam shalat Fardhu,
dari susunan hadist 1 diatas bahwa hendaknya menghadap kiblat sebelum bertakbir (syarah dari Imam alwi abbas al
Maliki kitab Ibanatul ahkam)
3. Bertakbir,
yaitu membuka shalat dalam takbirratul ikhram (pendapat terbanyak dari Imam Syafi’I, Imam Hambali dan Imam Maliki
bahwa takbiratul ikhram wajib dengan lafdz ‘Allahhu Akbar’)
4. Membaca Alfatihah,
para ulama sepakat Imam Syafi’I, Imam Hambali dan Imam Maliki wajibnya membaca Alfatihah disetiap rakaatnya.
sebagaimana Hadits Rasulullah saw : “ Tidak sempurna shalat seseorang bila tidak membaca biummil Qur’an (Al Fatihah)”
(HR. Bukhari dan Muslim)
5. Rukuk,
diriwayatkan oleh sahabat Rasulullah saw Ubbayd assaa’idi ra berkata : “bahwasannya melihat Rasulullah saw jika
bertakbir kedua tangannya sejajar dengan bahunya, jika berukuk kedua tangannnya memegang kedua lututnya, sampai
dengan akhir…..” ( HR. Imam Bukhari dan Muslim)
6. Tuma’ninah dalam berrukuk,
sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudian engkau berrukuk hingga tuma’ninah dalam berukuk…”
7. I’tidal,
sebagaimana hadits 1 diatas “… kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau meluruskan badanmu berdiri (I’tidal)…”
8. Tuma’ninah dalam I’tidal,
sebagaimana hadits 1 diatas “…Hingga engkau bertuma’ninah dalam berdirimu…”
9. Sujud pertama dan Sujud kedua,
sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin bersujut hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujut…” dan Hadits Rasulullah saw :
“aku diperintah untuk bersujud dengan 7 anggota tubuh (atas dahi, kedua tangan, kedua lutut dan jari-jari kaki)” ( HR.
Mutafaqul’alayh). Sabda Rasul saw : “Bahwa engkau sujud maka taruhlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua
sikumu” (HR. Muslim)
10. Tuma’ninah dalam sujud pertama dan tuma’ninah dalam sujud kedua, sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin bersujud
hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujud…”
11. Duduk diantara dua sujud,
sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin angkat kepalamu (duduk antara 2 sujud) …”
12. Tuma'ninah diantara dua sujud,
sebagaimana hadits 1 diatas “…hingga engkau bertuma’ninah dalam dudukmu…”
13. Tasyahud akhir,
Riwayat Muslim dari Ibn Abbas berkata Rasul saw mengajari kami tasyahud “Attahiyatul mubaarakatus
shalawatutthoybatulillah…” sampai dengan akhir.
14. Duduk diTasyahud akhir,
sebagaimana hadits 2 diatas “ ketika duduk untuk berTasyahud…”
15. Bershalawat kepada Rasul saw,
sebagaimana hadits 3 diatas “ Kita diperintah untuk bershalat.. maka bagaimana kami bershalawat keatasmu…”. Imam
Syafi’I berpendapat bahwa beshalawat atas Rasul saw dan keluarganya dalam shalat adalah Wajib bagi kita,
sebagaimana hadits 3 diatas.
16. Salam,
sebagaimana hadits 4 diatas “sesungguhnya Rasulullah saw menutup shalatnya dengan salam” (HR. Imam Bukhari dan
Muslim). Sebagaimana hadits 4 maka para Imam beritifak bahwa salam awal wajib bagi seorang imam atau ma’mum
atau sendiri dan salam kedua sunah, dan paling sedikitnya salam (Assalamu’alaikum) dikarnakan penduduk madinah
melakukannya. (Kitab Ibbanatul Ahkam: Imam Alwi bin Abbas al maliki)
WELCOME TO ORANGE HOMES, Family Guest House
-
REZA DESANTO DJAYA SAPUTRA Mikroorganisme, Bakteri dan Virus Perkembangan Mikrobiologi Sejarah perkembangan mikrobiologi sebelum ilmu penget...
-
N ARRIYANTO HALAL & HARAM MENURUT SYARIAT ISLAM II halal-haram merupakan sesuatu yang sangat penting bagi umat Islam di mana pun berada,...
-
N ARRIYANTO Macam2 najis Darah & Nanah Semua jenis darah termasuk nanah adalah najis. Dikecualikan: Sisa darah dalam daging, urat-urat...
-
N ARRIYANTO al-albani, cara shalat, madzhab, muhammadiyah, NU, sunnah nabi, takbir by M Shodiq Mustika Alkisah, seorang pemuda Madura datang...
-
BIOGRAFI IMAM NASAI (N ARRIYANTO) Nasab dan Kelahirannya Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin...
Rabu, 22 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar